Salah satu cara untuk mendongkrak tenaga
motor adalah dengan mengganti knalpot
( exhaust ) dengan model racing. Diyakini, knalpot
racing lebih ‘lancar’ dalam menyalurkan
gas hasil pembakaran. Bagaimana cara
memilihnya ? Faktor-faktor apa saja yang harus
diperhatikan sebelum membeli ? Bagaimana cara
merawat mesin paska penggantian knalpot agar
mesin tetap awet dan memiliki performa yang
mumpuni ? Semoga tips berikut bisa membantu
brothers dalam berburu knalpot racing untuk
Karisma kesayangan - mengingat di toko onderdil
dan variasi, bejibun banyaknya ragam model,
merk dan harga knalpot racing.
Jujur saja, tidak ada sebuah knalpot yang betul-
betul berkarakter ‘racing’ ( balap ) yang
dijual di pasaran secara bebas dan diproduksi
masal. Orang kita terlanjur menyebut sebuah
knalpot yang bentuknya berbeda dengan knalpot
standar sebagai knalpot racing. Knalpot racing
asli, biasanya didapatkan lewat pesanan khusus
dengan desain dan perhitungan khusus pula ke
tukang knalpot yang dipercaya. Karakter mesin
( paska korekan ), tipikal sirkuit balap dan hal-hal
teknis lainnya yang merupakan ‘bumbu
dapur’ si pembalap dan team-nya,
menjadikan knalpot racing kebanyakan diorder
secara diam-diam (tidak dipasarkan kepada
khalayak ramai). Yang dapat kita temui di pasaran,
sebetulnya adalah knalpot semi-racing yang
sudah diukur (jika si pembuat knalpot merupakan
orang / merk ternama) agar sesuai dengan
karakter mesin harian. Untuk seterusnya, istilah
knalpot racing dalam tulisan ini merujuk kepada
knalpot semi-racing ini.
Ada dua bentuk knalpot racing yang umumnya
mudah dibedakan oleh rider awam. Bentuk
panjang atau bentuk pendek. Bentuk panjang, jika
knalpot tersebut memiliki silencer ( tabung
peredam suara ) berada hampir di ujung buritan
motor. Bentuk pendek, jika silencer knalpot tidak
mencapai buritan ( setengah atau lebih sedikit dari
panjang bodi motor keseluruhan ). Sulit
membayangkan ? Lihat saja bentuk knalpot pada
Honda RC211V Mas Biaggi dari Team Repsol
Honda di MotoGP dengan bentuk knalpot pada
pacuan Valentino Rossi di Yamaha M-1. Bentuk
pendek, dimiliki oleh Honda RC211V. Valentino
Rossi menggunakan bentuk panjang. Honda
Tiger 2000 dan Honda Mega Pro, knalpot
standarnya juga menganut bentuk panjang –
meski bukan tergolong sebagai knalpot racing.
Bentuk panjang, efektif untuk mengail tenaga di
putaran atas ( menggapai top speed ). Bentuk
pendek sebaliknya, efektif untuk mengail tenaga di
putaran pendek. Jika bro menggunakan knalpot
dengan bentuk pendek, torsi mesin gampang
dicapai pada tiap giginya. Sedangkan jika
menggunakan bentuk panjang, yang terasa
adalah nafas mesin tiap gigi (terutama di gigi
tinggi) terasa lebih panjang ketimbang saat
menggunakan knalpot standar. Bentuk pendek,
efektif untuk daerah perkotaan yang sering
terjebak macet. Sedangkan bentuk panjang,
ehem …. nikmat betul untuk motor yang sering
diajak turing maupun buat pul-kam alias mudik.
Jangan terkecoh. Perbedaan keduanya pada
motor harian, tidak terlalu ekstrem. Jika bro
menggunakan bentuk panjang untuk melibas
macet, masih sah-sah aja kok. Bukan berarti
motor bro akan bermasalah. Menggunakan
bentuk pendek untuk turing ataupun perjalan
jarak jauh, juga tidak ada masalah dengan tenaga.
Kembali ke MotoGP ….
Mengapa Honda RC211V menggunakan bentuk
pendek ? Mengapa Yamaha M-1 menggunakan
bentuk panjang ? Honda RC211V secara teknis,
memiliki tenaga yang lebih dari Yamaha M-1.
Rentang tenaganya / power band yang dimiliki
lebih luas ketimbang rivalnya. Secara sederhana,
jika itu Honda sanggup digeber 250 km / jam,
rivalnya hanya mampu mencapai top speed 220
km /jam saja. Namun, untuk menempuh top
speed maksimum, Honda RC211V membutuhkan
waktu lebih lama ( kalah tarikan akibat power
band lebih luas ). Jika diadu trek 201 m, Yamaha
M-1 bisa jadi pemenangnya deh. Oleh karena itu,
Honda RC211V perlu dopping tambahan agar
tarikannya cepat melesat. Bentuk pendek ( ala
megaphone )-lah solusinya. Kenapa Yamaha M-1
tidak mengikutinya ? Karena Yamaha M-1
membutuhkan dopping di putaran atas,
sedangkan tarikannya dirasa cukup. Ingat bahwa
top speed Yamaha M-1 masih kalah dari Honda
RC211V sedangkan tenaga maksimum / top speed
Honda RC211V sudah cukup. Kendati mengganti
knalpot dengan bentuk pendekpun, top speed
Honda RC211V masih di atas rivalnya. Kira-kira,
analogi perbedaan bentuk panjang dan bentuk
pendek demikian.
Bentuk panjang, biasanya ( sekali lagi, biasanya )
memiliki suara yang lebih lembut dan cenderung
‘bulat’ atau sering disebut orang ‘nge-
bass’. Bentuk pendek, biasanya memiliki suara
yang lebih keras dan ‘pecah’ atau sering
disebut orang ‘robek’ atau ‘mrepek’.
Wajar, panjangnya knalpot racing bentuk
panjang, membuat aliran gas buang lama
mencapai ujung knalpot sehingga tekanannya
melemah ketika keluar. Pada knalpot racing
bentuk pendek, di mana tekanan gas buang
masih cukup kuat, gas buang sudah mencapai
ujung knalpot. Inilah yang membuat bentuk
pendek suaranya cenderung bikin pemakainya â
€˜disumpahi’ orang lain ? Selain ukuran,
bentuk corong pada ujung silencer knalpot juga
mempengaruhi. Masih ada lagi, karakter saringan
dan mutu glass-wool ( gaspul ) yang berfungsi
mengolah turbulensi gas buang di dalam silencer,
juga turut mempengaruhi. Sayang, hal ini tidak
bisa dengan mudah untuk diketahui oleh awam,
kecuali orang yang mengerti seluk-beluk knalpot.
Namanya juga knalpot ‘racing’, tentu
fungsi dasarnya adalah untuk membuat motor
lari sekencang-kencangnya. Otomatis, putaran
atas mesin lebih diutamakan, baik pada bentuk
panjang maupun pendek. Dalam hal ini, knalpot
racing rata-rata ‘mengorbankan’ putaran
bawah. Artinya, tarikan motor dengan knalpot
racing, boleh jadi kalah ‘bengis’ dari knalpot
standar. Motor dengan knalpot racing – tanpa
penyesuaian apa-apa lagi – akan terasa â
€˜lemot’ dan lamban pada saat gas dipelintir.
Seolah tenaga motor ‘mengayun’, hilang
sesaat dan tidak responsif. Bagaimana â
€˜mengakali’-nya ? Hal ini juga berhubungan
dengan faktor konsumsi bahan bakar.
Knalpot racing, membuat gas buang lebih lancar
mengalir atau ‘free-flow’. Ibarat manusia,
knalpot racing membuat seseorang ( baca :
mesin ) ‘pipis’ lebih lancar. Jika orang
tersebut ‘minum’ air terlalu sedikit, jadinya
adalah dehidrasi. Demikian pula dengan mesin
ketika knalpot racing diaplikasi. Pasokan bahan
bakar harus ditambah ! Ada langkah-langkah
tertentu yang harus dilakukan brother paska
penggantian knalpot ini.
1. Lakukan penyetelan setelan udara setelah
penggantian knalpot.
2. Lakukan test ride beberapa km dengan kondisi
riding seperti biasa ( layaknya membawa motor
secara harian, tidak perlu terlalu kencang, tidak
usah telalu pelan ).
3. Matikan mesin beberapa meter sebelum motor
berhenti ( posisi gigi di-netralkan dulu ) untuk
memperlihatkan kondisi mesin ( via busi )
sesungguhnya.
4. Buka busi. Awas, hati-hati. Membuka busi
sesaat setelah mesin dijalankan beresiko
membuat ulir drat tempat busi menjadi selek.
5. Perhatikan kondisi dan warna busi. Jika busi
berwarna putih bersih, berarti setelan udara tidak
mampu ‘menahan’ dahaga mesin akan
bahan bakar. Harus ganti spuyer ! Jika busi
berwarna putih kecoklatan / merah bata, berarti
setelan sudah tepat. Jika busi berwarna hitam,
atur ulang setelan udara.
Cat : Mengenai spuyer, akan dibahas lebih lanjut
dalam tulisan terpisah.
Ada beberapa kasus yang kadang ikut menyertai
ketika dilakukan penggantian knalpot. Kasus
knalpot racing yang baru hobi dar –der – dor
alias ‘nembak-nembak’ sampai ke knalpot
mengeluarkan percikan api ! Meski jarang terjadi,
ada kemungkinan knalpot racing yang baru
nembak. Karisma dilengkapi dengan CDI canggih
yang mempu mengatur debit bahan bakar sesuai
dengan permintaan mesin di setiap putaran.
Penggantian knalpot racing, sedikit banyak
membuat keakuratan CDI dalam membaca
permintaan mesin berkurang. Jangan khawatir,
hal ini tidak akan membuat CDI rusak hanya
menghilangkan unsur ekonomis dan efisiensi
bahan bakar. Wajar. Mesin melesat cepat,
logikanya lebih haus bahan bakar kan ? ?
Mengatasi knalpot nembak dapat diatasi dua
langkah :
1. Buka busi, atur gap busi di 0.6 – 0.7 mm
2. Ganti busi baru ( standar saja ), jika umur busi
telah 5000 km.
3. Atur ulang setelan udara.
4. Ganti spuyer bila hal tersebut di atas tidak dapat
mengatasi knalpot nembak.
Mengatasi knalpot mengeluarkan api :
1. Buka knalpot, pasang paking knalpot baru
2. Lakukan 3 langkah ‘mengatasi knalpot
nembak’.
( Thanks for Bro Angking atas sharing
pengalamannya )
Perawatan mesin paska penggantian knalpot
yang utama adalah, membuat mesin tidak
kehausan bahan bakar ! Mesin yang telalu â
€˜kering’ beresiko membuat mesin cepat
jebol. Setelah setelan ideal didapatkan, perawatan
yang lain berjalan seperti biasa. Ganti oli secara
teratur, bahkan jika perlu interval-nya dipercepat.
Misalkan biasanya ganti oli setiap 2000 km, boleh
ganti setiap 1500 km. Tidak perlu oli mahal, oli
rekomendasi pabrik sudah cukup kok. Satu tips
lagi, setelah knalpot terpasang dan setelan
didapatkan, bersihkan filter udara sekalian agar
hasilnya lebih greng. Bensin tidak perlu diganti ke
oktan yang lebih tinggi. Biasa minum premium,
premium saja.
Ada juga beberapa kasus di mana setelah knalpot
racing terpasang, setelan ideal malah tidak pernah
ketemu meskipun sudah sampai mengutak-atik
karburator ( ganti spuyer, setel pelampung, dll ).
Hal ini menunjukkan bahwa knalpot tersebut
kurang baik mutunya atau tidak sesuai dengan
kondisi mesin standar. Langkah antisipasinya
adalah dengan mengumpulkan informasi
sebanyak-banyaknya sebelum membeli knalpot.
Bisa juga dengan memperhatikan beberapa merk
yang sudah diakui mutunya, yang beredar di
pasaran.
Terakhir, selama dilakukan penyetelan ulang
paska penggantian knalpot dengan baik dan
benar, disertai langkah-langkah merawat
tunggangan secara rutin, tidak perlu khawatir
Honda Karisma brothers akan cepat rusak.
Apalagi Honda yang mesinnya bandel ? Jadi,
selamat berburu knalpot racing. Ingat, kecepatan
bukanlah yang utama. Safety riding lebih penting,
bro!
[Sumber: karismafansclub.or.id] - bebekuning/
kaskus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar